Ads Top

Nafkah Dari Seorang Suami Penjual Nasi Dan Cendol



Mengharu biru kisah seorang isteri yang bekerja dengan gaji 4 ribu lebih sebulan tidak berzukur dengan nafkah suami yang sedikit karena suaminya hanya menjual nasi di tepi jalan dengan gaji 6 ke 7 ratus ringgit sebulan.
Bagaimanapun Akhir dari kisah ini membuatkan si isteri sedar atas keihklasan suaminya hingga ia berhenti bekerja,bagaimanakah kisahnya?
Berikut kisahnya semoga menjadikan pengajaran kepada pasangan di luar sana.
“Petang itu saya menunggu rakan yang akan menjemput saya selepas selesai menunaikan solat magrib di masjid,seorang wanita yang kira kira berumur 30 tahun datang tersenyum dan duduk di sebelah saya.
Dalam perkenalan dia menanyakan saya sudah menikah atau belum,belum lagi,saya masih belajar jawab saya.
Tepat apa yang saya sangka,sebenarnya bukan itu yang menjadikan kakak itu menyapa saya.Sebuah bag berisi leptop mahal dan sebuah bag yang tak bisa aku tebak apa isinya dalam hati bertanya tanya siapakah wanita ini? nampaknya seperti orang kaya dan memiliki kerjaya yang bagus.
Pada akhirnya saya beranikan diri bertanya kakak baru baik kerja ke?
Alhamdulillah dua jam yang lalau saya berhenti kerja,jawabnya dengan muka penuh keyakinan dan bersinar dari ketulusan hati.
Perasan dengan pandangan pelik saya, Dia tersenyum dan berkata “inilah satu satunya cara agar saya lebih menghormati suami saya “tegasnya.
“Saya bekerja di sebuah perusahaan mungkin tak perlu saya sebut namanya tapi gaji saya sebulan hampir mencecah 5 ribu ringgit,suami saya hanya penjual nasi dan roti di pagi hari,cendol di tengah hari dan kami baru menikah 5 bulan lalu.
Semenjak kami menikah baru semalam saya mengalirkan air mata karena merasa derhaka pada suami,waktu itu jam 8 malam suami datang menjemput saya di tempat kerja karena ada musyawarah biasanya saya balik jam 5.
Setelah sampai di rumah  suami saya masuk angin dan kepalanya sakit,dan parahnya kepala saya pun sakit,suami menyuruh saya mengambi air minum namun saya berkata “awak je yang ambil kepala saya sakit ni”
Pening kepala membuat saya tertidur hingga lupa sembahyang isya,saya bangun dan cepat cepat ambil udhuk,selepas solat alhamdulillah sakit kepala saya dah hilang.
Beranjak dari sejadah saya melihat suami saya tidur di atas sajadah dengan lenanya,kemudian saya menuju kedapur,saya melihat pinggan mangkuk semuanya dah bersih di cuci,baju kotor pun telah di cuci.
Ya Allah suami saya mengerjakan semua itu ketika kepalanya sakit ?Saya segera masuk semula kedalam bilik,saya pegang wajah suami saya,pipinya,keningnya kemudian saya teringat kata kata terakhir saya tadi,”awak je yang ambil kepala saya sakit ni” ya allah betapa tersentuhnya hati saya.Air mata saya jatuh betapa saya selama ini tidak memperhatikan suami saya.
Malam itu saya benar benar sedar bahwa saya selama ini derhaka pada suami dengan gaji yang saya miliki,saya merasa tak perlu meminta nafkah kepada suami bahkan sempat saya berkata dalam hati”ada suami ke tak ada sama je”
Namun suami saya selalu meberikan uang dari hasil jualannya kepada saya meskipun tidak banyak dan berkata” awak ini ada sedikit rezeki dari Allah,awak ambil ye buat belanja mudah mudaha cukup”
Kenapa baru sekarang saya merasakan dalamnya kata kata itu,betapa gaji yang tinggi membuat saya merasa sombong pada nafkah yang diberikan suami,gaji yang tinggi membuat saya merasa tidak hormat pada suami.
Alhamdulillah sekarang saya berhenti kerja mudah mudahan dengan jalan ini saya bisa lebih menghargai nafkah yang diberikan suami.
Saya masih membisu mendegar cerita kakak itu,tidak diberikan saya peluang untuk bercakap kakak itu melanjutkan ceritanya.
Beberapa hari lalu saya balik kampung kerumah orang tua saya,dan menceritakan niat saya ini,saya kecewa karena tidak seorang pun saudara mara menyokong saya termasuk kedua orang tua saya.
Malah mereka membanding bandingkan pekerjaan suami saya dengan orang lain.pada saat itu saya hanya menangis karena apa yang dikatakan saudara mara saya itu benar.
Tapi bukan itu yang membuat saya sedih karena mereka menghina dan memandang rendah pada imam saya.
“Mereka merendahkan setiap tetasan keringat suami saya Yang keluar dari kening berkedut kepenatan”
“Mereka menghina orang yang senantiasa membangunkan saya untuk bersujud di subuh hari”
“Mereka manghina orang yang selalu melebutkan dan menenangkan hati saya”
“Mereka menghina orang yang berani datang pada orang tua saya untuk melamar padahal masa itu dia masih belum mempunyai apa apa”
Orang yang saya muliakan ternyata begitu rendah di mata orang lain karena sebuah pekerjaan.
Sebab itu saya memutuskan untuk berhenti kerja,untuk menghargai nafkah suami ,saya mulai rasa bangga dengan suami saya,karena tidak semua orang mempunyai keberanian untuk pekerjaan itu,kebanyakan orang memilih untuk menganggur dari pada bekerja seperti itu.
Tapi suami saya tidak merasa malu dan tetap berusaha untuk menafkahi isterinya dengan rezeki yang halal,itulah yang membuat saya begitu bangga kepadanya.
Nanti bila adik dah bersuami jangan malu mengaku pekerjaan suami pada orang lain,bukan masalah pekerjaannya tapi masalah halalnya, berkahnya dan ikhlas yang memberi dan memohon kepada Allah semoga suami kita di jauhkan dari rezeki yang haram.Ucapnya terakhir sambil tersenyum padaku.
Kakak itu kemudian mengambil bag leptopnya dan berdiri kulihat dari jauh ada seorang lelaki keluar dari masjid dengan baju melayu menaiki motorsikal kapcai mendekat kearah kami sambil mengucapkan salam.
Mekipun tak ada niatku untuk menatap wajahnya namun saya akui wajah itu begitu tenang dan lembut,sangat sesuai dengan isteri yang begitu ridho.
Nota eberita: Kekayaan sebenar adalah saat kita merasa cukup akan nikmat yang Allah bagi Walaupun tanpa ada sesuatu yang bersipat waahhh! !.
Hari ini kita mendapat satu pengajaran dalam hidup,harapnya selepas ini hapuslah harapan berkahwin dengan lelaki kaya anak datuk seperti mana yang sering berlaku dalam drama tv3 jam 7.

No comments:

Powered by Blogger.